- Pendahuluan
Perlu kita ketahui ulama-ulama mutaakhkhirin sependapat menetapkan bahwa kitab-kitab hadits termasyhur, lima buah yaitu :
- Shahih Al Bukhary
- Shahih Muslim
- Sunan Abu Daud
- Sunan An Nasay
- Sunan At Turmudzy
Kitab yang lima tersebut di atas mereka namai "Al Ushulul Khamsah" atau "Al Kutubul Khamsah"
Sebagian ulama mutaakhkhirin, yaitu Abdul Fadli Ibn Thahir, menggolongkan pula keadaannya sebuah kitab pokok lagi. Sehingga terkenallah di dalam masyarakat "Al Kutubu I-sittah" (kitab enam). Beliau memasukkan Sunan Ibnu Majah menjadi kitab pokok yang enam.
Pendapat beliau ini diikuti oleh Abdul Ghani Al Maqdisi, kemudian Al Mizzi, kemudian Al Hafidh Ibnu Hajar dan Al Khazraji. Sebagian lain ulama mutaakhkhirin menetapkan bahwa kitab pokok itu ada enam dan yang keenam ialah : "Al Muwaththa'".
Rezin dan Ibnu 'I-Atsir menjadikan Al Muwaththa' sebagai kitab yang keenam, dialah kitab yang paling shahih. Kitab yang kelima ini telah mengumpulkan 95% hadits shahih yang mengenai hukum, yang 5% lagi dikumpulkan oleh beberapa kitab shahih yang disusun dalam abad ke IV.
Isi
Nilai dan Keadaan Kitab Enam
- Shahih Al Bukhary
Shahih al Bukhari, adalah kitab yang mula-mula yang membukukan hadits-hadits shahih. Kebanyakan ulama hadits telah sepakat menetapkan bahwa shahih Al Bukhary itu adalah seshahih shahih kitab sesudah Al Qur'an.
Tegasnya, dialah pokok pertama dari kitab-kitab pokok hadits Al Bukhary menyelesaikan shahihnya dalam waktu 16 tahun. Di tiap-tiap beliau hendak menulis sebuah hadits, beliau mandi dan beristikharah.
Beliau menamainya dengan "Al Jami'u 'sh-Shahih Al Musnadu min haditsi Rasul saw".
Isinya berjumlah 9082 buah hadits marfu' dan sejumlah hadits mauquf dan maqthu'.
Ibnush shalah menetapkan bahwa bilangan hadits Al Bukhary ada 7275 buah hadits dengan berulang-ulang. Kalau tidak berulang-ulang ada 4000 buah hadits. Hitungan Ibnu Shalah ini diikuti oleh An Nawawy.
Kata Al Hafidh : 'mereka menetapkan demikian karena mentaklidi Al Hamwy. Sesudah saya hitung baik-baik dengan cermat terdapatlah bahwa jumlah hadits Al Bukhary beserta dengan yang berulang-ulang, selain dari hadits mu'allaq dan mutabi' ada 7397 buah hadits dan yang tidak berulang-ulang ada 2602. Jumlah yang mu'allaq ada 1341 buah. Jumlah yang mutabi' ada 344 buah. Jumlah seluruhnya ada 9082 hadits.
kedalam hitungan ini tidak masuk hadits-hadits mauquf dan hadits-hadits maqthu'.
Al Bukhary membagi kitabnya kepada 97 kitab, 3451 bab. Jumhur ulama hadits menyebut hadits-hadits shahih Al Bukhary tanpa memeriksanya kembali.
Ad Daraquthny telah menyisihkan 110 buah hadits. 30 hadits diantaranya disetujui oleh Muslim. 78 buah hadits diriwayatkan oleh Al Bukhary sendiri. Penyaringan ini telah dibantah oleh Ibnu hajar dalam Muqaddamah Fathu 'I-Bari. Sebagian bantahannya itu dapat diterima secara ilmiah.
Sesungguhnya, tak ada sebuah kitabpun yang mendapat perhatian besar sebesar perhatian yang diperoleh oleh Shahih Al Bukhary. Lantaran itu, didapatlah syarahnya sebanyak 82 buah. Syarah-syarah itu ada yang panjang,a da yang ringkas, ada yang sedang-sedang.
Diantaranya ialah "A'lamu's Sunan, susunan Al Khaththaby (388 H). Al Kawakibu 'd-Darari, susunan Muhammad ibn Yusuf Al Kirmany (775 H). Syarah yang banyak tersebar dalam masyarakat, Irsyadu's-Sari karangan Ahmad ibn Muhammad Al Mishry Al Qashtalany (851 H – 923 H).
Diantara semuanya itu, hanya empat buah saja yang terpandang tinggi dari segala jurusan.
- At Tanqih, karangan Badruddin Az Zarkasyy.
- At Tawsyih, karangan Jalaluddin As Suyuthy
- 'Umdatul Qari, karangan Badruddin Al 'Ainy
- Fathul Bari, karangan Syihabuddin Al 'Asqalany.
Fathul barilah, yang merupakan kitab yang terbaik di antara keempat kitab di atas, sehingga digelarkan : "Raja Syarah Bukhary".
Ibnu Hajar memulai penyusunan syarah tersebut pada tahun 817 H. sesudah menyelesaikan muqaddimahnya pada tahun 813 H. Sesudah siap beliau susun, beliau adakan "peralatan besar" yang menelan biaya 500 dinar. Kemudian syarah itu diminta beli oleh seorang amir seharga 150 pound.
Disamping dibuat syarah-syarah terhadap buku Shahih Bukhary, dibuat pula mukhtasarnya (ringkasannya). Mukhtasar yang terbaik adalah "At Tajridu 'sh-Shahih" susunan Al Husain ibn Al Mubarak (631 H).
Sebagian sarjana menetapkan, bahwa At Tajridu 'sh Shahih ini, susunan Abul Abbas Syarafuddin Ahmad Asy Syarajy Az Zabidy, yang diselesaikannya dalam tahun 889 H. dalam tahun 893 H, beliau berpulang.
Sebagai ulama menguatkan pendapat ini dengan alasan bahwa Al Husain Ibnul Mubarak Az Zabidy wafat dalam tahun 631 H sebagaimana yang diterangkan oleh Al Qasthalany dalam Al irsyad. Bukunya diselesaikan dalam tahun 889 H. Kitab mukhtasar ini telah disyarahkan oleh Al 'Allamah Hasan Khan dan Oleh Abdullah Asy Syarqawy.
- Shahih Muslim
Shahih Muslim ini kitab yang kedua, pokok yang kedua dari kitab-kitab hadits yang menjadi pegangan. Sesudah Shahih Bukhary shahih Muslimlah yang dijadikan pedoman.
Shahih Muslim lebih baik susunannya daripada shahih Al Bukhary; karena itu lebih mudah kita mencari hadits di dalamnya daripada mencari di dalam Shahih Al Bukhary.
Muslim menempatkan hadits-hadits wudlu' umpamanya seluruhnya dibagian wudlu' tidak berserak-serak di sana sini seperti halnya Shahih Al Bukhary.
Diriwayatkan dari Muslim bahwa isi shahihnya sejumlah 7275 buah hadits dengan berulang-ulang.
Kitab-kitab syarahnya, banyak banyak juga. Ada sejumlah 15 buah yang amat terkenal ialah :
- Al Mu'lim bi Fawa-idi Muslim, karangan Al Mazary (536 H)
- Al Ikmal, karangan Al Qadli 'Iyadl (544 H).
- Minhaju 'l-Muhadditsin, karangan An Nawawy (676 H).
- Ikmalul Imal, karnagan Az Zawawy (744 H)
- Imalul Ikmali Mu'lim, karangan Abu Abdillah muhammad Al Abiyy Al Maliky (927 H)
Diantara yang mengikhtisarkannya pula, ialah : Al Qurthuby (656 H), yang disyarahkan kembali olehnya dalam kitabnya Al Mufhim.
Zawaidnya telah dikumpul dan disyarahkan oleh Ibnu 'l-Mulaqqim (804 H)
- Sunan An Nasa-y
Sunan ini bernama : Al Mujtaba mina 'l-sunan (sunan-sunan pilihan). Sunan ini dinamai : Al Mujtaba, karena pada mula-mulanya An Nasa-y menyusun sunannya yang besar lalu memberikannya kepada seorang Amir di Ar Ramlah. Amir itu bertanya : "Apakah isi sunan ini shahih seluruhnya ?". jawab An Nasa-y : "Isinya ada yang shahih, ada yang hasan dan ada yang hampir serupa dengan keduanya". Kemudian sang Amir berkata lagi : "Pisahkanlah yang shahih saja". Sesudah itu An Nasa-ypun menyaring sunannya dan menyalin yang shahih saja dalam sebuah kitab yang lain dengan menamainya : "Al Mujtaba". Kedudukannya di bawah derajat Shahih muslim, karena hadits yang dla'if sedikit sekali terdapat di dalamnya.
Bila dikatakan orang : "Hadits riwayat An nasa-y", maka yang dimaksudkan ialah "riwayat yang di dalam Al Mujtaba' itu". diantara para sarjana yang mensyarahkannya ialah : As Sayuthy dan As Sindy. Kitab ini yang paling kurang mendapat syarahan dari para ahli sebagai yang diterangkan oleh As Sayuthy.
Al Mujtaba' dipandang pokok yang ketiga. Zawaidnya atas Al Bukhary/Muslim, Abu Daud, At Turmudzy, telah dikumpulkan disyarahkan oleh Ibnul Mulaqqim.
- Sunan Abu Daud
Kata Al Khaththaby di dalam kitab Ma'allimu 's-sunan. "Ketahuilah, bahwasanya Sunan Abu Daud itu sebuah kitab yang sukar ada tandingannya dalam masalah agama, yang telah diterima baik oleh seluruh ulama Islam.
Kata Abu Daud sendiri : "Aku telah menulis hadits Rasul sebanyak 500.000 hadits, kemudian aku pilih sejumlah 4800 lalu aku masukkan ke dalam kitab ini".
Hadits yang amat lemah atau tidak sah sanadnya aku terangkan di akhirnya. Tak kusebutkan dalam kitab ini hadits-hadits yang ditolak oleh seluruh orang, dan yang tak kukatakan apa-apa berarti hadits yang baik.
Sunan abu Daud berisi hadits hukum, sedikit saja yang berhubungan dengan urusan-urusan lain. kata Al Ghazzaly : "Sunan Abu Daud cukup buat pegangan seseorang mujtahid".
Syarahnya banyak. Sebagian daripadanya : "Ma'alimu 's-Sunan karangan Al Khaththaby dan Aunul Ma'bud karangan seorang ahli hadits yang terkenal di India, yaitu Abu 'I-thaib Syamsul Haq-Adhiem Abady.
Dan sebagus-bagus mukhtasarnya ialah Al Mujtaba' susunan Al Mundziry yang telah disyarahkan oleh As Sayuthy, Al Mujtaba' itu telah disaring oleh Ibnul Qayim Al Jauziyah. Saringan itu dinamai "Tahdzibu s-Sunan".
Sunan Abu Daud ini dipandang pokok yang keempat. Zawaidnya atas Al Bukhary/Muslim telah disyarahkan oleh Ibnu Mulaqqim.
- Sunan At Turmudzy
Kata penyusunannya, At Turmudzy : "Aku tidak memasukkan ke dalam kitab ini melainkan hadits yang sekurang-kurangnya telah diamalkan oleh sebagian fuqaha".
Beliau menulis hadits dengan menerangkan yang shahih dan yang tercatat serta sebab-sebabnya sebagaimana beliau menerangkan pula mana-mana yang diamalkan dan mana-mana yang ditinggalkan.
Sunan At Turmudzy besar faedahnya, tinggi derajatnya dan isinya jarang berulang-ulang.
Sebagian syarahnya ialah : syarah As Sayuthy dan As Sindy. Syarahnya yang paling besar ialah "Aridlatul Ahwadzy" karangan Ibnul 'Araby Al Maliky.
Dan sebagian dari mukhtasarnya, ialah mukhtasar Al Jami', karangan Najmuddin Ibnu 'Aqil. Sunan At Turmudzy ini dipandang sebagai pokok yang kelima. Zawaidnya atas shahihain dan Abu Daud telah disyarahkan oleh Ibnul Mulaqqin.
- Sunan Ibnu Majah
Sunan ini di bawah daripada segala kitab yang tersebut di atas. Ibnu Thahir Al Mqdisy, memandang sunan ini pokok yang keenam. Sebagian ulama memandang, Al Muwaththa' sebagai pokok yang keenam.
Adapula yang memandang pokok yang keenam sunan Ad Darimy. Dan ada yang menetapkan pokok yang keenam, Al Muntaqa susunan Ibnu Jarud.
Yang mula-mula menjadikan sunan ini kitab yang keenam ialah Ibnu Thahir Al Maqdsy, kemudian dituruti oleh Al Hafidh Abdul Ghany Al Maqdisy dalam kitab Al ikmal. Mereka mendahulukan sunan ini atas Al Muwaththa', karena banyak zawakinya atas kitab lain.
Razin Al Sarqasthy menjadikan Al Muwaththa' kitab yang keenam dan inilah yang dimaksud dengan kitab enam oleh Ibnul Atsir dalam kitab Jami'ul Ushul. Sebagian dari syarah Sunan Ibnu Majah, ialah Mishbahu 'z-Zujajah, karangan As Sayuthy dan syarah As Sindy.
Hadits yang hanya diriwayatkan sendiri oleh Ibnu Majah kebanyakannya dla'if. Hal ini dapat diketahui dengan penerangan syarah-syarahnya.
Zawaid-zawaidnya atas kitab lima telah disyarahkan oleh Ibnul Mulaqqim. Syarah ini dinamai Ma tamussu ilaihi'l hajah 'ala sunani Ibnu Majah.
- Sunan Ad Darimy
Sunan Ad Darimy lebih banyak mengandung hadits yang shahih jika dibandingkan sunan Ibnu Majah dan sepertinya Cuma sedikit saja hadits yang tidak shahih terdapat di dalamnya.
Sunan ini lebih tinggi daripada sunan ibnu Majah. Karena itulah sebagian ulama hadits menjadikan sunan Ad Darimy pokok yang keenam.
Al Hafidh al Asqalany memuji kitab ini dan menyatakan lebih baik daripada susunan ibnu Majah.
- Al Muntaqa (Muntaqa Ibnu'l Jarud)
Kitab ini sebuah kitab yang dipandang baik oleh para ahli hadits. Menurut Ahmad Muhammad Syakir, bahwa Al Muntaqa lebih patut dijadikan kitab yang keenam.
- Musnad Ahmad
Musnad Ahmad adalah sebuah kitab hadits yang besar kadarnya tinggi derajatnya dalam pandangan ahli hadits. Penyusunnnya ialah Ahmad, seorang imam empat. Musnad ini dipandang pokok juga (pokok yang ketujuh). Isinya berjumlah 40.000 buah hadits. 10.000 diantaranya berulang-ulang.
Sekiranya Musnad ini tetap tinggal sebanyak yang disusun Ahmad sendiri, maka tak ada di dalamnya hadits yang tak dapat dipakai sama sekali.
Maka karena musnad ini telah ditambah-tambah isinya oleh putra beliau sendiri Abdullah dan oleh Abu Bakr Al Qathi'y, terdapatlah di dalamnya sebagian besar hadits yang dla'if dan empat buah hadits maudlu'.
Hal ini dapat diketahui dengan perantaraan syarah-syarahnya. Baik sekali dipergunakan fihris musnad Ahmad yang diusahakan oleh Al Qadli Al Muhaddits Ahmad Muhammad Syakir, sarjana hadits yang terkenal di Mesir sekarang, untuk mengetahui nilai isinya. Sebagian dari syarahnya ialah syarah As Sindy. Dan sebagian dari mukhtasarnya ialah mukhtasar Ibnu Mulaqqim.
- Muwaththa' Malik
Muwaththa' Malik, kitab yang paling tua yang sampai di tangan kita. kitab ini ditulis oleh Imam Malik Ibnu Anas Al Ashbahy atas permintaan Al Manshur.
Hadits-hadits Al Muwaththa' dipandang shahih oleh Malik, berdasarkan pendapatnya memegangi hadits-hadits mursal dan munqathi'.
Dalam pada itu hadits-hadits yang keadaannya mursal atau munqathi' atau mu'dlal dalam Muwaththa' telah didapati sanadnya yang muttashil di luar Al Muwaththa' itu oleh ulama-ulama yang berusaha memperhatikan hadits-hadits riwayat Malik.
Hanya empat buah hadits saja yang tidak didapat sanadnya yang muttashil di luar Muwaththa'.
Menurut perhitungan Al Abinary, jumlah hadits-hadits Al Muwaththa' baik marfu' maupun mauquf ataupun madthu' adalah 1726 buah. Yang musnad diantaranya berjumlah 600 buah, yang mursal 228 buah, yang mauquf, 613 buah, dan yang maqthu' 285 buah.
Banyak sekali ulama yang memberikan perhatiannya kepada Al Muwaththa'. Inilah kitab yang dipelajari oleh Asy Syafi'y, Muhammad ibn Al Hasan (204 H), Ibnu Wahab, Al Qasim, dua orang ulama Malikiyah yang terkenal.
Kitab ini dipelajari oleh Yahya ibn Sa'id Ibn al Qaththan (198 H), Abdur Rahman Ibn Mahdy (198 H), Abdur Razzaqibn Humam. Juga para khulafa mempelajari kitab ini, diantaranya ; Harun Al Rasyid (193 H), Al Amin (198 H), Al Ma'mun (218 H).
Diantara pensyarahnya ialah Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya At Tamhid, Ibnul Araby (546 H) dalam kitabnya yang dinamai Al Qabas. Dan kemudian disyarahkan lagi oleh As Sayuthy (911 H) dalam kitabnya Kasyful Mughththa' dan diringkaskan syarahnya itu dalam kitab Tanwirul Hawalik.
Diantara yang mensyarahkan Al Muwaththta' dalam syarah yang agak besar ialah Az Zarqany (1014 H) dan Ad Dahlawy (1176 H) dalam kitabnya Al Musauwa.
Kitab Al Muwaththa' telah dicetak dengan typografi yang baik dengan diberikant a'liq yang ringkas serta diterangkan ahli-ahli hadits-hadits yang turut meriwayatkan hadits Al Muwaththa' ibu, oleh Al Ustadz Muhammad Fuad Abdul Baqi. Diantara mukthasarnya ialah Mukhtasar Al Khaththaby (388 H) dan Mukhtasar Abul Walid Al Bajy (774 H).
Kesimpulan
Bahwasanya ulama-ulama mutaakhirin sependapat menetapkan kitab pokok 5 buah yaitu :
- Shahih Al Bukhary
- Shahih Muslim
- Sunan Abu Daud
- Sunan An Nasay
- Sunan At Turmudzy
Yang mereka namai "Al Kutubu 'l-Khamsah". Tetapi sebagian ulama mutaakhirin menggolongkan pula ke dalam sebuah kitab pokok lagi kemudian terkenallah sebagai "Al Kutubu 'l-Sittah", beliau memasukkan sunan Ibnu Majah sebagai kitab yang ke 6.
DAFTAR PUSTAKA
Ash Shiddieqy, Prof. Dr. T.M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Bulan Bintang, Jakarta, 1988.
No comments:
Post a Comment